Login

POLITEKNIK ATMI

Competentia . Conscientia . Compassio

JALAN SEHAT MICHAEL DAY

Jalan Sehat Michael Day

 

Di kolese Mikhael Surakarta pada bulan September selalu sibuk dan banyak kegiatan, sebab pada bulan ini kolese Mikael memiliki gawe yang cukup besar: memperingati 50 tahun ATMI Surakarta. Dalam rangka memeriahkan lustrum ke 10 tersebut, banyak kegiatan dilakukan, salah satunya dengan melakukan JALAN SEHAT.

 


Selengkapnya: JALAN SEHAT MICHAEL DAY

CATATAN SEORANG SAHABAT

Catatan Seorang Sahabat

Untuk ATMI 48

S

abtu, 8 September 2018 merupakan hari bersejarah dan membahagiakan bagi mahasiswa ATMI angkatan 48, sebab mereka diwisuda dan berhak menyandang gelar Ahli Madya. Bukan sebuah gelar prestisius, karena sudah banyak orang yang lulus S-1 atau S-2, bahkan S-3 dan bergelar sarjana, master atau doktor. Pertanyaannya adalah apakah prestasi itu harus diukur dari gelar yang diraihnya atau dari penghargaan yang mengikuti setelah gelar itu diperoleh? Banyak orang bergelar S-1 atau S-2 bahkan S-3, tetapi setelah toga dilepas mereka tidak mendapatkan pekerjaan apalagi menciptakan pekerjaan bagi dirinya sendiri. Apakah mereka lebih berprestasi? Bagaimana dengan alumni ATMI yang sudah mendapatkan pekerjaan bahkan sebelum mereka dinyatakan lulus, tetapi hanya bergelar D3? Siapakah yang pantas disebut berprestasi? Tidak perlu diperdebatkan, sebab semuanya hanya merupakan hukum sebab akibat.

Lulus dari ATMI bukan merupakan perkara mudah. Pendidikan di ATMI tidak segampang membalik lembar-lembar dari halaman buku, menstabillo poin-poin penting sambil menghafal dalil-dalil kebenaran. Pendidikan di ATMI adalah mengubah ide menjadi gambar produk yang siap direalisasi, mengubah gambar menjadi barang, mengubah sistem manual menjadi otomasi dan seterusnya sesuai panggilan untuk selalu kreatif dan inovatif. Itu realitas. Artinya output pendidikan di ATMI bukan hanya sebuah pemahaman konseptual saja, melainkan juga bagaimana membuat yang konseptual itu menjadi kenyataan, bahasa kerennya ab initio ad esse,dari gagasan menjadi ada, dari keinginan menjadi ada bahkan dari ketiadaan menjadi ada. Menjadikan yang tidak ada menjadi ada itu adalah latihan untuk berdiri kokoh di kedua kaki. Itulah sebabnya, atmiwan atmiwati sejati, tidak akan pernah takut bila tidak mendapatkan pekerjaan, karena ia sudah dilatih untuk mencipta, termasuk mencipta pekerjaan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Kalian harus catat baik-baik, itulah kemampuan yang ditumbuhkan dalam diri kalian. Kemampuan mencipta itu juga harus kalian pahami sebagai kemampuan menghasilkan barang-barang sendiri, bukan hanya pandai mengimpor barang lalu menjualnya dan mencari laba. Syukur kalau anda bisa mengekspor hasil karya anda. Anda bisa belajar pada kakak kelas anda yang lulus dua tahun lalu, dia sudah mampu mengekspor barang yang ia ciptakan sendiri.

Itu tidak mudah. Untuk sampai pada level itu Mahasiswa ATMI harus cerdas di pikiran, cerdas di tangan sekaligus cerdas di hati. Cerdas di pikiran berarti memiliki kompetensi untuk memahami masalah teknik dan lewat pikirannya mampu menyelesaikan persoalan-persoalan akademis yang dihadapinya. Cerdas di tangan berarti apa yang dikuasai secara konseptual harus bisa diwujudkan melalui kerja tangan. Cerdas di tangan berarti cakap secara motorik/kinestetik, itu ditandai dengan kemampuan kalian di praktik bengkel/lab atau mampu mengerjakan apa yang kalian pikirkan. Cerdas di hati berarti cerdas secara emosional, dimana kalian memiliki kemampuan mengendalikan diri, bersikap berhati-hati, agar pekerjaan yang dilakukan tidak menimbulkan kerugian (mesin tidak rusak, benda kerja tidak blong). Kehati-hatian ini bisa muncul juga dalam sikap menghargai karya orang lain, tidak mudah menyalahkan dan menuduh orang lain. Sembari membangun ketiga kecerdasan tersebut, sebagai mahasiswa ATMI kalian juga harus mengembangkan nilai-nilai keutamaan yang menjadi pilar pembentukan karakter.

Dalam konteks formation yang ada, itu berarti kalian harus disiplin, jujur, bertanggung jawab, mau bekerja keras dan selalu bersikap inovataif. Itulah mungkin yang kalian rasakan berat, dan karenanya lulus dari ATMI pantas disyukuri dan dibanggakan, dan kelulusannya membahagiakan. Mungkin kalian bertanya mengapa kita harus bertumbuh ke dalam lima nilai dasar tersebut? Jawabannya adalah karena salah satu cirikhas pendidikan Jesuit adalah memperhatikan secara penuh perkembangan pribadi dan kemajuan bangsa. Itu dirumuskan dengan bahasa yang sangat simpel namun mendalam: To be men or women for and with others.Rumusan itu mencakup arti yang sangat mendalam bahwa kalian harus menjadi agen perubahan sosial.Sebagai agen perubahan sosial, kalian tidak hanya menonton, melainkan menjadi pelaku perubahan sosial itu sendiri. Itulah sebabnya tidak cukup kata “for others”, harus lengkap “to be men or women for and with others”.

Tiga tahun di ATMI kendati penuh rasa was-was dan takut, namun sesungguhnya penuh dengan pengharapan. Rasa lelah, ketakutan menghadapi mesin, kebingungan dan kesulitan yang selalu mengiringi proses belajar, jadwal yang padat dan ketat adalah bagian tersulit dari sebuah proses pendidikan di ATMI. Jika kalian melewatkan ini, sesungguhnya kalian sudah kehilangan momen terpenting dalam kehidupan kalian, yakni transformasi. Sekali lagi, transformasi itu tidak semudah membalik telapak tangan atau membalik kardus. Dan itulah proses setiap mahasiswa ATMI. Bagi mahasiswa yang tidak mau dan tidak mampu melalui proses ini, ia tidak layak menjadi alumnus ATMI.

CATATLAH dalam ingatanmu, ketika biji jatuh ke tanah dan tidak pecah atau mati, ia tidak akan bisa hidup dan bertumbuh. Semua proses kelahiran menjadi manusia baru, selalu melalui proses yang berat, seperti halnya kupu-kupu yang harus terjepit lubang kepompong yang sangat sempit agar ia bisa keluar menghirup udara bebas, melihat matahari dan langit yang cerah dan bunga-bunga yang bermekaran memamerkan kelezatan madu yang siap direguk. Keinginan tinggal berlama-lama dalam rumah kepompong yang hangat dan nyaman adalah jebakan untuk tidak bertransformasi. Kalau mau menjadi kupu-kupu ya harus keluar dari rasa nyaman meskipun melalui medan sulit dan jalan yang sempit. Perjuangan kalian melalui jalan sulit itu sebanding dengan keindahan hidup yang akan kalian alami. Jadi jangan pernah menyesal dan mengutuki jalan sulit itu, sebab ada kalanya Tuhan terpaksa harus memakai jalan-jalan sempit dan sulit, terjal dan berliku, bahkan kadang menguras air mata dan peluh yang bercucuran. Kadang hal itu harus terjadi supaya muncullah kualitas kalian untuk menggapai keindahan yang akan kalian terima.

Kini kalian sudah lulus, berapapun IP kalian, itu tidak penting dan tidak mendasar. Yang terpenting adalah kalian sudah dinyatakan mampu untuk membuktikan pada industri bahwa kalian bisa berkontribusi bagi negeri ini. Sertifikasi yang diberikan oleh ATMI dengan kode tiga huruf di belakang nama kalian [“Amd”], itu merupakan hasil dari sebuah proses yang telah kita lewati bersama. Dulu pernah saya katakan bahwa pendidikan itu investasi, dan kalian sudah membayarnya secara lunas lewat pengalaman belajar selama tiga tahun. Sekarang saatnya kalian memanen apa yang kalian tanam, saatnya menuai dari yang kalian taburkan. Mungkin kalian menabur dengan bercucuran air mata, kini semestinya kalian menuai dengan bersorak sorai.

Ketika melihat kalian saat pertama kali datang ke kampus ini, saya ingin mengatakan bahwa menjalani pendidikan di ATMI itu tidak mudah, tidak semudah janji janji yang kalian ucapkan pada saat PPS. Saya katakan berkali-kali ATMI itu tidak mudah, tidak semudah membalik tangan atau kardus. ATMI itu sulit bahkan lebih sulit dari yang kalian bayangkan. Namun yang tidak mudah ini bukan berarti tidak bisa didaki dan yang sulit ini bukan berarti tidak bisa diatasi. Jika kalian bertekun, menyukai apa yang kalian kerjakan maka kalian akan sampai. Sing teken lan tekun bakal tekan, dalam bahasa yang gampang dimengerti itu saya rumuskan dengan kata-kata From Passion to Glory. Mungkin kata-kata ini lebih mudah kalian cerna dan kalian pahami. Saya hanya mau mengatakan kala itu, Cintai apa yang kalian kerjakan, dan kerjakan apa yang kalian cintai, sesulit apapun pekerjaan itu. Jika kalian bertekun dalam situasi ini, kalian akan mendapatkan kemuliaan, seperti halnya para musafir yang terus berjalan, pada waktunya ia akan menemukan mata air yang menyegarkan tubuh dan jiwanya. Namun musafir yang tidak mau berjalan, diam serta tidak mau berusaha, pada akhirnya ia akan binasa karena kehausan dan terbakar matahari.

Proficiat sahabat hebatku.

Segeralah berbuah untuk dirimu, keluargamu, masyarakatmu, dan negaramu.

John Prasojo